Senin, 05 November 2012

Penggolongan Tes


Penggolongan Tes
sumber Buku : Pengantar Evaluasi Pendidikan (Prof. Drs. Anas Sudijono)
A. Penggolongan tes berdasarkan fungsinya sebagai alat pengukur perkembangan/kemampuan belajar peserta didik
Ditinjau dari segi fungsi yang dimiliki oleh tes sebagai alat pengukur perkembangan belajar peserta didik, tes dapat dibedakan menjadi enam golongan, yaitu sebagai berikut:
1.      Tes Seleksi
Tes seleksi sering dikenal dengan istilah “Ujian Saringan” atau “ujian Masuk”. Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan calon siswa baru, dimana hasil tes digunakan untuk memilih calon peserta didik yang tergolong paling dari sekian banyak calon yang mengikuti tes.
           Materi tes pada tes seleksi ini merupakan materi prasyarat untuk mengikuti program pendidikan yang akan diikuti oleh calon. Sesuai dengan sifatnya, yaitu menyeleksi atau melakukan peyaringan, maka materi tes seleksi terdiri atas butir-butir yang cukup sulit, sehingga hanya calon-calon yang tergolong memiliki kemampuan tinggi sajalah yang dimungkinkan dapat menjawab butir-butir soal tes dengan betul. Tes seleksi dapat dilaksanakan secara lisan, secara tertulis, dengan tes perbuatan, dan dapat pula dilaksanakan dengan mengkombinasikan ketiga jenis tes tersebut secara serempak.
Sebagai tindak lanjut dari hasil tes seleksi, maka para calon yang dipandang memenuhi batas persyaratan minimal yang telah ditentukan dinyatakan sebagai peserta tes yang lulus dan dapat diterima sebagai siswa baru, sedangkan mereka yang dipandang kurang memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, dinyatakan tidak lulus dan karenanya tidak dapat diterima sebagai siswa baru.
2.      Tes Awal
Tes awal sering dikenal dengan istilah pre-test. Tes jenis ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui sejauh manakah materi atau bahan pelajaran yang akan diajarkan telah dapat diketahui oleh para peserta didik. Jadi tes awal adalah tes yang dilaksanakan sebelum bahan pelajaran diberikan kepada peserta didik. Karena itu maka butiran-butiran soalnya dibuat yang mudah-mudah.
           Isi atau materi tes awal pada umumnya ditekankan pada bahan-bahan penting yang seharusnya sudah diketahui atau dikuasai oleh peserta didik sebelum pelajaran diberikan kepada mereka. Sebagai contoh, sebelum mereka diberi pelajaran pendidikan agama islam, rukun iman, nama-nama Rasul Allah, nama-nama kitab suci yang dibawa oleh masing-masing Rasul Allah, nama-nama malaikat berikut tugas mereka masing-masing, dan sebagainya. Contoh lainnya, sebelum siswa diberi pelajaran matematika, terlebih dahulu dites pengetahuannya dalam hal perkalian, pembagian, pengkuadratan, mencari akar dan sebagainya. Tes awal dapat dilaksanakan,baik secara tertulis atau secara lisan.
           Setelah tes awal itu berakhir, maka sebagai tindak lanjut adalah: (a) Jika dalam tes awal itu semua meteri yang ditanyakan dalam tes sudah dikuasai dengan baik oleh peserta didik, maka materi yang telah ditanyakan delam tes awal itu  tidak akan diajarkan lagi, (b) Jika materi yang dapat dipahami oleh peserta didik baru sebagian saja, maka yang diajarkan adalah materi pelajaran yang belum cukup dipahami oleh para peserta didik tersebut.
3.      Tes Akhir
Tes akhir sering dikenal dengan istilah post-test. Tes akhir dilaksannakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang tergolong penting sudah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh para peserta didik.
           Isi atau materites akhir ini adalah bahan-bahan pelajaran yang tergolong penting, yang telah diajarkan kepada para peserta didik, dan biasanya naskah tes akhir ii dibuat sama dengan naskah tes awal. Dengan cara demikian maka akan dapat diketahui apakah hasil tes akhir baik, sama, ataukah lebih jelek daripada tes awal. Jika hasil tes akhir itu lebih baik daripada tes awal, maka dapat diartikan bahwa program pengajaran telah berjalan dan berhasil dengan sebaik-baiknya.
4.      Tes Diagnostik
Tes diagnostik (diagnostic test) adalah tes yang dilaksanakan untuk menentukan secara tepat, jenis kesukaran yang dihadapi oleh para peserta didik dalam suatu mata pelajaran tertentu. Dengan diketahuinya jenis-jenis kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik itu maka lebih lanjut akan dapat dicarikan upaya berupa pengobatan (theraphy) yang tepat. Tes diagnostik juga bertujuan ingin menemukan jawaban atas pertanyaan “Apakah peserta didik sudah dapat menguasai pengetahuan yang merupakan dasar atau landasan untuk dapat menerima pengetahuan selanjutnya?”
           Materi yang ditanyakan dalam tes diagnostik umumnya ditekankan pada bahan-bahan tertentu yang biasanya atau menurut pengalaman sulit dipahami siswa. Tes jenis ini dapat dilaksanakan dengan secara lisan, tertulis, perbuatan atau kombinasi dari ketiganya.
           Sesuai dengan nama tes itu sendiri (diagnose = pemeriksaan), maka jika hasik “pemeriksaan” itu menunjukkan bahwa tingkat penguasaan peserta didik yang sedang “diperiksa” itu termasuk rendah, harus diberi bimbingan secara khusus agar mereka dapat memperbaiki tingkat penguasaannya terhadap mata pelajaran tertentu.
5.      Tes Formatif
Tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui, sudah sejauh manakah peserta didik “telah terbentuk” (sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan) setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu teretentu.
Soal-soal tes formatif ada yang mudah dan ada pula yang sukar, bergantung kepada tugas-tugas belajar (learning tasks) dalam program pengajaran yang akan dinilai. Tujuan utama tes formatif adalah untuk memperbaiki proses belajar, bukan untuk menentukan tingkat kemampuan anak. Tes formatif sesungguhnya merupakan criterion-referenced test. Tes formatif yang diberikan pada akhir satuan pelajaran sesungguhnya bukan sebagai tes formatif lagi, sebab data-data yang diperoleh akhirnya digunakan untuk menentukan tingkat hasil belajar siswa. Tes tersebut lebih tepat disebut sebagai subtes sumatif. Jika dimaksudkan untuk perbaikan proses belajar, maka maksud itu baru terlaksana pada jangka panjang, yaitu pada saat penyusunan program tahun berikutnya.
Tindak lanjut yang perlu dilakukan setelah diketahuinya hasil tes formatif adalah:
a.       Jika materi yang diteskan itu telah dikuasai dengan baik, maka pembelajaran dilanjutkan dengan pokok bahasan yang baru.
b.      Jika ada bagian-bagian yang belum dikuasai, maka sebelum dilanjutkan dengan pokok bahasan baru, terlebih dahulu diulangi atau dijelaskan lagi bagian-bagian yang belum dikuasai oleh peserta didik.
6.      Tes Sumatif
Tes sumatife (summative test) tes hasil belajar yang dilaksanakan setelah sekumpulan satuan program pengajaran selesai diberikan. Di sekolah, tes ini dikenal dengan istilah “Ulangan Umum” atau “EBTA” (Evaluasi Belajar Tahap Akhir), dimana hasilnya digunakan untuk mengisi nilai rapor atau mengisi ijazah (STTB). Tes sumatif ini pada umumnya disusun atas dasar materi pelajaran yang telah diberikan selama satu catur wulan atau satu semester. Dengan demikian materi tes sumatif itu jauh lebih banyak ketimbang materi tes formatif.
           Tes sumatif dilaksanakan secara tertulis, agar semua siswa memperoleh soal yang sama. Butiran-butiran soal yang dikemukakan dalam tes sumatif ini pada umumnya juga lebih sulit atau lebih berat daripada butir-butir soal tes formatif.
           Yang menjadi tujuan utama tes sumatif adalah untuk menentukan nilai yang melambangkan keberhasilan peserta didik setelah mereka menempuh proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu, sehingga dapat ditentukan:
a)      Kedudukan dari masing-masing peserta didik di tengah-tengah kelompoknya;
b)      Dapat atau tidaknya peserta didik untuk mengikuti program pengajaran berikutnya (yang lebih tinggi), dan;
c)      Kemajuan peserta didik, untuk menginformasikan kepada orang tua, petugas bimbingan dan konseling, lembaga-lembaga pendidikan lainnya, atau pasaran kerja, yang tertuang dalam bentuk Rapor atau Surat Tanda Tamat Belajar.

B. Penggolongan tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap
       Dilihat dari aspek kejiwaan yang ingin diungkap, tes dibedakan menjadi:
1.      Tes intelegensi (intellegency test), yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.
2.      Tes kemampuan (aptitude tes), yaitu tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat khusus yang dimiliki oleh testee.
3.      Tes sikap (attitude test), yakni salah satu jenis tes yang dipergunakan untuk mengungkap predisposisi atau kecenderungan seseorang untuk melakukan suatu respon tertentu terhadap dunia sekitar, baik berupa individu-individu maupun obyek tertentu.
4.      Tes kepribadian (personality tes), yakni tes yang dilaksanakan dengan tujuan mengungkap cirri-ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya bersifat lahiriah, seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara, hobi atau kesenangan, dan lain-lain.
5.      Tes hasil belajar, yang juga sering dikenal dengan istilah tes pencapaian (achievement test), yakni tes yang biasa digunakan untuk mengungkap tingkat pencapaian atau prestasi belajar. Tes hasil belajar atau tes prestasi belajar dapat didefinisikan sebagai cara (yang dapat dipergunakan) atau prosedur (yang dapat ditempuh) dalam rangka pengukuran dan penilaian hasil belajar, yang berbentuk tugas dan serangkaian tugas (baik berupa pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal) yang harus dijawab, atau perintah-perintah yang harus dikerjakan oleh testee, sehingga (berdasar atas data yang diperoleh dari pengukuran itu) dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi belajar testee; nilai mana dapat dibandingkan dengan nilai-nilai standar tertentu, atau dapat pula dibandingkan dengan nilai-nilai yang berhasil dicapai oleh testee lainnya.
C. Penggolongan Lain
1.         Dilihat dari segi bayak orang yang mengikuti tes, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:
a.         Tes individual (individual test), yakni tes dimana tester hanya berhadapan dengan satu orang testee saja, dan;
b.        Tes kelompok (group test), yakni tes dimana tester berhadapan dengan lebih dari satu orang testee.
2.         Dilihat dari segi waktu yang disediakan bagi testee, tes dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
a.         Power test, yakni tes dimana waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi, dan;
b.        Speed test, yaitu tes yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut dibatasi.
3.         Dilihat dari segi responnya tes dibedakan menjadi dua, yaitu:
a.       Verbal test, yakni suatu tes yang menghendaki respon (jawaban) yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara lisan maupun tertulis, dan;
b.      Nonverbal test, yakni tes yang menghendaki respon (jawaban) dari testee bukan berupa ungkapan kata-kata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau tingkah laku; jadi respon yang dikehendaki muncul dari testee adalah berupa perbuatan atau gerakan-gerakan tertentu.
4.         Ditinjau dari segi cara mengajukan pertanyaan dan cara memberi jawabannya, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
a.       Tes tertulis (pencil and paper test), yakni jenis tes dimana tester dalam mengajukan butiran-butiran pertanyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis dan testee memberikan jawaban juga secara tertulis.
b.      Tes lisan (nonpencil and paper test), yakni jenis test dimana tester didalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soalnya dilakukan secara lisan, dan testee memberikan jawabannya secara lisan pula.